Urbanisasi adalah faktor utama yang melatarbelakangi diperlukan smart city, diperkirakan pada tahun 2020 separuh populasi Asia akan pindah ke kota. Kepadatan penduduk akan berpotensi menimbulkan banyak masalah kota, oleh karenanya diperlukan penanganan yang pintar, bukan hanya sumber daya manusia yang pintar tetapi juga diperlukan ekonomi pintar, kehidupan pintar, pemerintahan yang pintar, energi yang pintar dan lingkungan yang pintar. Pengelolaan ini terlalu rumit untuk dilakukan manusia, diperlukan peran Information Communication Technology (ICT) untuk menangani masalah ini.
Ada banyak sekali referensi yang mendefenisikan arti smart city, namun secara sederhana smart city adalah sebuah kota yang memanfaatkan ICT untuk mengumpulkan data digital, kemudian dianalisis menggunakan metode tertentu untuk menjadi informasi yang mampu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat kota. Jika disyaratkan: harus ada ICT, data, analisis dan kualitas hidup.
Beberapa contoh impelementasi smart city misalnya untuk meminimalkan kemacetan dengan cara mengambil data dari smartphone masyarakat yang sedang berkendara, kemudian dikumpulkan melalui Internet, dianalisa menggunakan teknik tertentu, akhirnya dapat diperkirakan jalan mana saja yang sedang macet. Berdasarkan informasi ini masyarakat dapat mengetahui jalan yang macet tanpa bantuan petugas. Menghindari kemacetan dapat menurunkan konsumsi bahan bakar. Contoh lain, jika ada mobil ambulan yang terjebak kemacetan maka lampu lalu lintas secara otomatis berubah menjadi hijau sementara simpang jalan yang lain menjadi merah, setelah mobil ambulan melintas maka lampu lalu lintas kembali normal, sama sekali tanpa bantuan Polisi lalulintas. Tugas manusia tergantikan dengan teknologi.
Contoh pada bidang ekonomi, pemerintah dapat mengupayakan pengumpulan semua data harga produk di setiap mall di dalam kota secara online, kemudian melalui aplikasi smartphone masyarakat dapat memilih tempat belanja yang tepat dan termurah untuk setiap produk yang akan dibeli. Cara masyarakat berbelanja menjadi lebih pintar.
Contoh pada bidang politik, masyarakat tidak perlu datang ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk memilih tetapi cukup dari rumah dengan cara membuka aplikasi smartphone dan menyentukan KTP elektronik ke smartphone maka suara sudah dihitung. Sebuah mekanisme perhitungan suara yang canggih dan pintar.
Satu contoh lagi, pemerintah dapat memasang sensor parkir di area tertentu, ketika ada kenderaan yang parkir maka sistem parkir akan memotong uang dari rekening pemilik kendaraan secara langsung. Tidak ada lagi mekanisme karcis, melalui alat sensor pemerintah secara otomatis mengetahui informasi jenis kendaraan, berapa lama, berapa kali dan bahkan siapa pemiliknya.
Contoh-contoh tersebut adalah contoh implementasi smart city di negara maju yang secara teknologi telah memenuhi syarat untuk diterapkan. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Apakah bisa diterapkan? Tentu saja bisa tetapi dengan arah prioritas yang berbeda. Smart city di beberapa negara disesuaikan dengan masalah apa yang menjadi fokus, setiap negara memiliki fokus yang berbeda-beda begitu pula Indonesia, mungkin Indonesia lebih cocok memfokuskan langkah smart citynya ke arah kualitas tata kelola pemerintahan, layanan publik, ekonomi digital, layanan kesehatan, pendidikan dan kualitas sumber daya manusia.
Jika melihat implementasi smart city di beberapa kota di Indonesia, kita bisa melihat salah satu pemerintah kota berupaya memasang CCTV di banyak area publik dan jalan raya untuk memantau lalu lintas, juga untuk meningkatkan keamanan kota. Di sisi lain, ada kota yang membuat aplikasi online smartphone yang dapat mengirimkan pengaduan masyarakat. Pemerintah dapat melihat seluruh pengaduan secara online dan mengambil tindakan segera. Melalui mekanisme ini keluhan masyarkat akan direspon lebih cepat. Dua contoh ini benar-benar berguna untuk masyarakat kota, tetapi jika hanya berhenti sampai di sini maka belum bisa dikatakan sebagai smart city karna sudah menggunakan ICT, ada data, ada kuliatas hidup tetapi tidak ada proses analisis sehingga tidak ada proses smart di sana. Tidak perlu memperpanjang perdebatan smart city atau tidak namun usaha pemanfaatan ICT untuk meningkatkan manfaat bagi masyarakat harus tetap dilakukan secara berkelanjutan. Riset-riset di perguruan tinggi perlu dilibatkan untuk menggali ide-ide dan potensi smart city.
Usaha yang dilakukan pemerintah melalui Kementrian Komunikasi dan Informatika patut diberi apresiasi, akan ada target 100 smart city menyebar hampir di seluruh Indonesia. Tantangan yang harus dihadapi cukup besar. Faktor-faktor non-ICT sangat diperlukan agar program ini berjalan singkron dengan kondisi di lapangan. Harus diperkuat dengan regulasi dan kesesuaian antara implementasi smart city dengan pola anggaran. Faktor-faktor kultur, budaya dan kepemimpinan juga sangat menentukan suksesnya smart city.
Koran Jambi Independent, 25 Juli 2017


